Kreartos

Kejahatan-kejahatan Siber

Kejahatan-kejahatan Siber yang Perlu Anda Ketahui

Jika Anda pernah menonton Who Am I, tentu Anda akan paham kejahatan-kejahatan siber sangat rentan terjadi. Film yang beranjak dari kisah kejahatan dunia maya tersebut, secara langsung mengatakan kepada kita bahwa tidak ada sistem yang benar-benar aman. Maka, dibutuhkan inisiatif keamanan sedini mungkin, agar aset-aset digital perusahaan terlindungi. Sebab, kejahatan-kejahatan siber kapan saja bisa terjadi.

Di era modernisasi industri, saat bisnis di bawa menuju ruas jemari ke jemari. Pertumbuhan signifikan pun terjadi pada kejahatan-kejahatan siber. Masih ingat kebocoran data pribadi dalam skala besar yang pernah terjadi pada Tokopedia? Tentu hal tersebut membuat pemilik data rentan mengalami penipuan, bukan?

Tak hanya itu, kebocoran data pibadi juga dapat membuat nyawa jadi taruhan dan layanan perusahaan dirusak. Kasus ransomware WannaCry salah satunya, yang membuat FedEx, Deutsche Bahn, dan layanan kesehatan nasional di Inggris tiarap.

Tentu saja, pelaku kejahatan-kejahatan siber ini akan selalu berusaha mengeksploitasi kerentanan manusia dan sistem keamanan website untuk mencuri kata sandi, data, atau uang secara langsung, dengan muara utama pemerasan atau meminta tebusan.

Apa saja kejahatan-kejahatan siber yang perlu Anda waspai agar Anda tidak menjadi korban dan website bisnis Anda tidak dirugikan?

Berikut Kejahatan-kejahatan Siber yang Umum Terjadi

1. Phishing scams

Phishing adalah salah satu bentuk serangan rekayasa sosial yang sering terjadi. Dalam hal ini pelaku secara persuasif mencoba mengelabui Anda agar memberikan informasi pribadi. Normalnya pelaku membuat profil media sosial atau website palsu sebagai daya tarik. Anda kemudian akan diminta untuk mengisi formulir yang nantinya mengarah pada pengisian data-data pribadi.

Dalam skenario terburuk, data-data tersebut nantinya akan dimonetisasi, bahkan digunakan untuk mencuri informasi bank. Jika informasi bank tidak didapatkan, selalu ada banyak cara bagi mereka untuk mendapatkan keuntungan, seperti yang terjadi pada skandal Cambridge Analytica — penyalahgunaan 87 juta data pengguna Facebook.

2. Internet Fraud

Internet fraud atau penipuan internet. Dalam sejarah kejahatan siber ini dikenal dengan “scam 419” atau penipuan “Nigeria” . Ini adalah kejahatan khas yang dilakukan secara kolektif. Jenis ini memang telah lama diterapkan melalui faks, telepon, dan surat tradisional. Akan tetapi, keberadaan internet membuatnya lebih mudah dengan penyebaran yang lebih luas melalui email.

Di sini pelaku terlihat sangat membutuhkan bantuan Anda untuk memindahkan sejumlah besar uang dan aset dari negara asing. Anda akan diminta untuk menutupi sebagian kecil dari biaya pemindahan uang atau aset, dan akan dijanjikan potongan keuntungan yang lebih besar ketika proses selesai. Hal ini juga sering terjadi pada mereka yang melamar pekerjaan, sejumlah uang akan diminta untuk membantu Anda mendapatkan pekerjaan.

3. Pencurian Identitas

Jenis ini memiliki keterkaitan denga pishing. Pencurian identitas atau identity theft terdiri dari dua bentuk. Tergantung pada iformasi yang dicuri. Pertama, pengisian formulir virtual yang hanya meminta data pribadi — nama, tempat tanggal lahir, nama ibu kandung, dan sejenis — bersifat umum tanpa memerlukan metode pembayaran tertentu. Kedua, lebih buruknya jika Anda diminta mengisi informasi kartu kredit, yang mana nantinya mereka gunakan untuk membeli barang-barang secara online memalui kartu kredit Anda.

4. Web Attack

Seperlima dari kejahatan-kejahatan siber terhadap bisnis adalah web attack. Pelaku akan mengeksploitasi kerentanan di situs web Anda untuk mengakses data pengguna. Jika website Anda tidak terlindungan secara aman, pelaku akan menyuntikkan kode berbahaya yang memungkinkan mereka mencuri informasi kartu kredit pelanggan. Untuk mencegah ini terjadi, Anda dapat bekerja sama dengan web developer tepercaya dan menggunakan layanan pihak ketiga yang bereputasi baik, terkhususnya memiliki layanan web security memadai.

5. Credential compromise

Tujuh belas persen serangan yang dialami website bisnis melibatkan kompromi kredensia. Artinya peretas menggunakan informasi login Anda untuk mendapatkan akses ilegal ke akun Anda. Pelaku dapat mempelajari kredensial Anda dalam beberapa cara: phishing, social engineering, malware (seperti keyloggers), atau peretasan (mendapatkan akses ke database kredensial dan memecahkan kata sandi).

Kesimpulan

Kerentanan terbesar suatu sistem tidak terletak pada server atau programnya. Melainkan pada manusia yang menjalankannya. Karena itu, Anda dapat mengurangi sebagian besar kejahatan-kejahatan siber tersebut dengan menggunakan jasa penyedia layanan web security terpercaya yang memiliki komitmen kuat terhadap keamanan.

Tertarik untuk memahami lebih lanjut perihal cybercrime dan bagaimana cara mengantisipasinya? Langusung konsultasikan bersama tim profesional kami melalui link di bawah ini: